TEORI BELAJAR KOGNITIF

 

 

 

 

 

 

TEORI BELAJAR KOGNITIF

 

 

 

MAKALAH

 

 ( Diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran)

 

 

 

Disusun oleh:

ZULFI NASIROTUL UMA            120210102010

TRIANA WULANDARI                 120210102023

NICKY ANGGRAINI                     120210102046

GALIH RINEKSO YUWONO       120210102093

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2013

Poin-poin dalam makalah ini antara lain:

  1. A.    Teori Belajar Kognitif
  2. B.     Tokoh – tokoh Teori Belajar Kognitif
    1. 1.            Piaget
    2. 2.            Teori Gestalt
    3. C.    Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif

 

Perbedaaan Teori Belajar Kognitif dan Teori Behavior

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. Teori Belajar Kognitif

Belajar kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

  1. Tokoh – Tokoh Teori Belajar Kognitif

Tokoh-tokoh aliran kognitif di antaranya adalah Thorndike,Watson, Clark L. Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran kognitivisme, antara lain:

 

1.      Piaget

Menurut Piaget dalam buku “Teknologi Pembelajaran” dari Drs. Bambang Warsita (2008:69) yang menjelaskan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu prosess genetika yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dalam buku “Psikologi Pendidikan” karya Wasty Soemanto (1997:123) yang menyatakan teori belajar piaget disebut cognitive-development yang memandang  bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual dari pada fungsi intelektual dari kongkrit. Belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu :asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap satu debfab tahap lainnya yang secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara berpikirnya. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya.

Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.

Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi beberapa tahap yaitu:

a.    Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.

Ciri-ciri tahap sensorimotor :

1)      Didasarkan tindakan praktis.

2)      Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi.

3)      Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek.

4)      Mengenai periode sensorimotor:

5)     Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pada banyak faktor: lingkungan sosial dan kematangan fisik.

6)      Urutan periode tetap.

7)      Perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu.

 

b.     Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.

c.      Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.

d.     Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.

Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut.  Sebaliknya, akomodasi terjadi  jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / di kode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima.

Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya.Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi

Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Piaget, antara lain:

1) menentukan tujuan pembelajaran

2) memilih materi pembelajaran

3) menentukan topik-topik yang dapat dipelajari oleh peserta didik

4) menentukan dan merancang kegiatan pembelajaran sesuai topic

5) mengembangkan metode pembelajaran

6) melakukan penilaian proses dan hasil peserta didik.

2. Teori Gestalt

A. Definisi serta Sejarah Munculnya Teori Gestalt

Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Peletak dasar teori gestalt adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpase. Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Intinya, menurut mereka, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran.
Teori Belajar Gestalt meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatanya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Suatu konsep yang penting dalam psikologis Gestalt adalah tentang insight yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Pengamatan adalah pintu pengembangan kognitif. Beberapa hukum gestalt dalam pengamatan adalah :

1) Hukum Pragnanz, yang mengatakan bahwa organisasi psikologis selalu cenderung ke arah yang bermakna atau penuh arti (pragnanz)

2) Hukum kesamaan, yang mengatakan bahwa hal-hal yang sama cenderung membentuk gestalt (keseluruhan)

3) Hukum kecenderungan mengatakan bahwa hal hal yang berdekatan cenderung berbentuk gestalt.

4) Hukum ketertutupan, yang mengatakan bahwa hal-hal yang tertutup cenderung membentuk gestalt.

5) Hukum kontinuitas yang mengatakan bahwa hal-hal yang berkesinambungan cenderung membentuk gestalt.

B. Eksperimen tokoh Gestalt terhadap Simpanse

Wolfgang Kohler menjelaskan teori gestalt ini melalui percobaan dengan seekor Simpense yang diberi nama Sulton. Dalam eksperimenmnya, kohler ingin mengetahui bagaimana fungsi insight dapat membantu memecahkan masalah dan membuktikan bahwa perilaku simpanse dalam memecahkan masalah yang dihadapinya tidak dengan Stimulus dan respon atau trial and error saja, tapi juga karena ada pemahaman terhadap masalah dan bagaimana memecahkan masalah tersebut. Merikut eksperimen yang dilakukan oleh kohler terhadap Simpanse :

Eksperimen I

Simpanse dimasukkan dalam sangkar atau ruangan dan didalam sangkar tersebut terdapat sebatang tongkat. Diluar sangkar diletakkan sebuah pisang. Problem yang dihadapi oleh simpanse adalah bagaimana simpanse dapat mengambil pisang untuk dimakan. Pada awalnya simpanse berusaha mengambil pisang tersebut, tetapi selalu gagal karena tangannya tidak sampai untuk mengambil pisang tersebut. Kemudian simpanse melihat sebatang tongkat dan timbulah pengrtian untuk meraih pisang dengan menggunakan tongkat tersebut. Begitu juga ketika ada dua tongkat, karena tidak dapat dirahnya pisang tersebut dengan tongkat satu. Tiba-tina muncul insight dalam diri simpanse dan menyambung dan akhirnya berhasil

 

Eksperimen II

Problem yang dihadapi sekarang diubah, yakni pisang digantung diatas sangkar sehingga simpanse tidak dapat meraih pisang tersebut. Disudut sangkar tersebut diletakkan subuah kotak yang kuat untuk dinaiki simpanse. Pada awalnya simpanse mau mengambil pisang, akan tetapi berkali-kali gagal, ketika simpanse melihat Kotak disudut sangkar, munculah insight simpanse untuk bergegas mengambil kotak dan dinaikinya dan akhirnya ia dapat mengambil pisang. Begitu juga ketika dalam sangkar terdapat dua kotak kuat, dan ketika simpanse tidak bisa mengambil dengan satu kotak, maka simpanse mengambil kotak tersebut untuk ditumpuk kemudian dinaiki dan akhirnya simpanse dapat mengambil pisang tersebut

Dari Eksperimen-eksperimen tersebut, kohler menjelaskan bahwa simpanse yang dipakai untuk percobaan harus dapat membentuk persepsi tentang situasi total dan saling menghubungkan antara semua hal yang relevan dengan Problem yang dihadapinya sebelum muncul insight. Dari percobaan tersebut menunjukkan simpanse dapat memecahkan insightnya, dan ia akan mentransfer insight tersebut untuk memecahkan problem lain yang dihadapinya

Gestalt berasumsi, bila seseorang atu suatu organisasi dihadapkan pada suatu problem, tetapi kedudukan kognitif tidak seimbang sampai problem itu dipecahkan. Menurut gestalt problem tersebut merupakan stimulus sampai didapat suatu pemecahannya. Organisme atau individu akan selalu berfikir tentang suatu bahan agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya sebagai bentuk respon atas masalah tersebut.

Belajar dalam pandangan teori Gestalt

Belajar pada hakikatnya adalah melakukan perubahan struktur kognitif. Selain pengamatan, kaum gestalt menekankan bahwa belajar pemahaman merupakan bentuk utama aliran ini. Kondisi pemahaman tergantung pada :

a) Kemampuan dasar seseorang

b) Pengalaman masa lampau yang relevan

c) Pengaturan situasi yang dihadapi

d) Pemahaman didahului oleh periode mencari atau coba-coba

e) Adanya pemahaman dalam diri individu menyebabkan pemecahan masalah dapat diulang dengan mudah.

f) Adanya pemahaman dalam diri individu dapat dipakai menghadapi situasi lain atau transfer dalam belajar.

Menurut teori Gestalt perbuatan belajar itu tidak berlangsung seketika, tetapi berlangsung berproses kepada hal-hal yang esensial, sehingga aktivitas belajar itu akan menimbulkan makna yang berarti. Sebab itu dalam proses belajar, makin lama akan timbul suatu pemahaman yang mendalam terhadap materi pelajaran yang dipelajari, manakala perhatian makin ditujukan kepada objek yang dipelajari itu telah mengerti dan dapat apa yang dicari.

Penerapan teori gestalt tampak pada kurikulum yang sekarang ini digunakan didunia pendidikan. Kurikulum mempunyai pusat yang sama. Dalam tingkat rendah, disusun kurikulum dari suatu kesatuan yang utuh. Hal pokok diajarkan secara garis besar. Ditingkat yang lebih lanjut, kesatuan itu diberikan lagi dengan muatan-muatan yang lebih detail yang mengarah kebagian-bagian yang telah diberikan ditigkat dasar. Begitu secara berkelanjutan disetiap jenjangnya.

 

  1. Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt.

Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia .

Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian-bagiannya. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :

  1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
  2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
  3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
  4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi yang lebih luas.
  5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
  6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
  7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
  8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.

Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:

  1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan
  2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah
  3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
  4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang diperoleh.
  5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu.

E. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran

Dalam teori Belajar Gestalt, Belajar pada hakikatnya adalah melakukan perubahan struktur kognitif. Selain pengamatan, kaum gestalt menekankan bahwa belajar pemahaman merupakan bentuk utama aliran ini. Maka dalam Proses pembelajaran dikelas harus diterapkan sesuai dengan Konsep teori Gestal tersebut. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

  1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur
  2.  Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Teori belajar gestalt secara umum sangat berpengaruh dalam metode membaca dan menulis. Metode yang resmi digunakan dengan mengacu teori yang dikenal dengan istilah SAS (Struktural, Analitis dan Sintesis). Metode ini dirintis oleh Dr. Ovide De Croly. Proses mengajarnya adalah sebagai berikut :

  1. Pada permulaan sekali. Peserta didik dihadapkan pada cerita pendek yang telah dikenal dalam kehidupan keluarga. Cerita ini jelas merupakan satu kesatuan yang telah dikenal oleh peserta didik. Karena itu mudah untuk membacanya secara keseluruhan dengan menghafal, biarkan murid membaca sambil menunjuk kalimat yang tidak cocok dengan yang diucapkannya.
  2. Menguraikan cerita pendek tersebut menjadi kalimat-kalimat. Guru secara alamiah menunjukkkan bahwa cerita pendek itu terdiri dari kalimat-kalimat. Antar kalimat deberi warna yang berbeda, dan antar kalimat diberi jarak yang cukup rengggang
  3. Memisahkan kalimat-kalimat menjadi kata-kata. Tiap kata ditulis dengan warna yang berbeda, terpisah dan ditulis agak jauhan. Susunan tiap kata
  4. Memisahkan kata menjadi suku kata.
  5. Memisahkan suku kata menjadi huruf, dan tiap hurufnya ditulis dengan warna yang berbeda.
  6. Setelah mengenal huruf, peserta didik diajak menyusun suku kata menjadi suatu kalimat.

 

  1. C.            Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif

Berdasarkan  pendapat dari Drs. Bambang Warsita (2008:89) yang menyatakan tentang prinsip- prinsip dasar teori kognitivisme,  antara lain:

  1. Pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan
  2. Peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran
  3. Menekankan pada pola pikir peserta didik
  4. Berpusat pada  cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi dalam ingatannya
  5. Menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang pembelajaran sebagai proses aktif di dalam diri peserta didik
  6. Menerapkan reward and punishment
  7. Hasil pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi yang disampaikan guru, tetapi juga pada cara peserta didik memproses informasi tersebut.

Aplikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran:

  1. Guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya,
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks,
  3. Guru menciptakan pembelajaran yang bermakna,
  4. Memperhatikan perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.

Implikasi teori kognitif  dalam pembelajaran:

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Kelebihan teori belajar kognitif:

  1. Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
  2. Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah

Kekurangan teori belajar kognitif:

  1. Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan.
  2. Sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut.
  3. Beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbedaan Teori Behaviorisme dan Kognitif secara Umum

Behaviorisme

Kognitif

Mementingkan pengaruh lingkungan Mementingkan apa yang ada dalam diri
Mementingkan bagian-bagian Mementingkan keseluruhan
Mengutamakan peranan reaksi Mengutamakan fungsi kognitif
Hasil belajar terbentuk secara mekanis Terjadi keseimbangan dalam diri
Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu Tergantung pada kondisi saat ini
Mementingkan pembentukan kebiasaan Mementingkan terbentuknya struktur kognitif
Memecahkan masalah-masalah dilakukan dengan cara trial and error Memecahkan masalah didasarkan kepada insight
Premis Dasar:  watson

Semua organisme menyesuaikan diri pada lingkungan, karena itu psikologi seharusnya mempelajari tingkah laku bukannya keaadan mental.

Premis Dasar: individu bereaksi pada keseluruhan yang bermakna dan merupakan satu kesatuan. Karena itu belajar merupakan suatu organisasi persepsi. Keseluruhan memiliki sifat-sifat yang muncul yang berbeda dari dan mengenai unsur-unsurnya.
Rumus Belajar:stimulus 1-respon-stimulus 2 Rumus belajar: Kontelasi stimulus-reaksi-organisasi
Sinonim: kondisioning klasik:subtitusi stimulus Sinonim: belajar untuk memperoleh pengalaman.
Studi eksperimen: kondisioning klasik pavlov, refleks terkondisi terhadap stimulus sembarang. Watson: respon emosi terkondisi terhadap stimulus sembarang Studi eksperimen: simpanse, anak-anak, dan mahasiswa diberikan masalah untuk dipecahkan yang menuntut reorganisasi persepsi.
contoh: seekor laba-laba dilemparkan kemuka seorang anak, pada waktu yang sama teman-temannya berteriak mengejar. Malam berikutnya teman-teman menakut-nakutinya, tepat waktu membuka selimut ia menemukan seekor laba-laba Contoh: tugas berupa melilit , ujung dua utas tali yang tergantung dari langit-langit. Hanya seutas tali yang dapat digapai dengan cara berdiri diatas kursi. Pemecahan bergantung pada persepsi atas satu-satunya alat yang tersedia. Yaitu tang sebagai pemberat untuk membuat bandul dari tali yang satu. Tali itu kemudian digayun untuk menangkap tali yang lain.

 

 

Daftar Rujukan

 

Ahmadi, Supriono, Widodo. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Anonim. 2011. Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Kognitif. (http://alhafizh84.wordpress.com/2010/10/15/teori-belajar-kognitif/) Diakses tanggal 19 Maret 2013

Anonim. 2011. Pengertian Teori belajar.  (http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/) diakses tanggal 19 Maret 2013

Anonim.  Pengertian Teori Belajar Kognitif.(http://hasanahworld.wordpress.com/2009/03/01/teori-belajarkognitif/).Diakses tanggal 19 Maret 2013
Baharuddin dan Wahyuni, Nur. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogajakarta : Ar-Ruz Media Group

Dakir.1993. Dasar-dasar Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Hamalik, Oemar. 2007. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung:Sinar Baru Algesindo Offset

Sudjana, Nana. 1989. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Jakarta: UI Press

Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan. . Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Pres

Sukmadinata,Nana Syaodi.2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosdakarya

Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan : Teori dan Praktik. Jakarta : PT. Indek

 

 

 

Lampiran

 

 

Job Deskripsi

Zulfi Nasirotul Uma

Mencari materi, Membuat cover, Membuat ringkasan dan daftar rujukan

Triana Wulandari

Mencari materi, Mengedit isi Makalah, Membuat ringkasan daftar rujukan

Nicky Anggraini

Mencari materi, Mengedit isi makalah, Membuat ringkasan daftar rujukan

Galih Rinekso Yuwono

Mencari materi, Mengedit isi makalah, Print Makalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s